TUGAS AGAMA
KISAH – KISAH PERTOBATAN
DISUSUN OLEH :
Nama
: Verlyn Nadia Gunawan
Kelas
: X Multimedia 1
SMKN
56 JAKARTA
JL. Pluit Timur Raya, NO.1, RT10/RW09
Penjaringan,
Jakarta Utara, DKI Jakarta
BAB 1
RIWAYAT HIDUP
1. Master Feng Shui :
Vachiravan Vanlaeiad (Tionghoa)
Dilahirkan dan tinggal di daerah Pemakaman
Tionghoa Sukhawadee di Nong Khee, Thaiuland. Leluhurnya emigrasi dari China dan
menetap di Propinsi Chonburi. Belajar ilmu Feng Shui dan astrologi sejak umur 7
tahun dari beberapa guru yang melakukan upacara spiritual di tempat pemakaman.
Ia senang memerhatikan upacara yang
dilakukan oleh guru-guru Feng Shui seperti berkomunikasi dengan roh-roh,
mengusir roh jahat dan berkomunikasi dengan roh orang mati. Sekalipun masih
anak kecil, ia sangat tertarik dan dapat dengan baik dan tepat menghafal
metode-metode meramal dan juga pelbagai prosedur upacara berkaitan dengan Feng
Shui di tempat pemakaman. Dalam studinya akan ilmu Feng Shui saya menemukan
pengetahuan ini bukan saja berlaku bagi yang mati tapi juga bagi yang hidup.
Di usia 20 tahun, Vachiravan sudah menjadi
seorang konsultan Feng Shui dan peramal yang cukup terkenal; kliennya termasuk
politikus, pejabat tinggi negara dan juga pengusaha. Bahkan tokoh Feng Shui
yang lain datang berkonsultasi padanya. Upahnya lumayan mahal dari beberapa
ratus Baht sampai beberapa ribu Baht, tergantung tingkat kesulitannya. Ia
terlibat dalam desain dan pembangunan beberapa pemakaman di Thailand.
Di tahun 1996, ia diperkerjakan oleh
Gereja Sapan Luang untuk membangun dan merawat tempat pemakaman milik gereja.
Vachiravan dipekerjakan sebagai kepala teknisi tempat pemakaman dan di samping
itu ia tetap meneruskan bisnis konsultan Feng Shuinya.
Kehidupannya lambat laun berubah setelah
berhubungan dengan gereja dan orang Kristen.
2.
Tokoh Reformasi : Martin Luther (Jerman)
Martin Luther (1483-1546), adalah seorang
pastur Jerman, professor teologi, dan figur penting dalam reformasi. Ia
merupakan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam sejarah Kekristenan
ketika ia memulai Reformasi Protestan di abad 16. Dia mempertanyakan beberapa
dasar doktrin Katholik Roma, dan pengikutnya dengan cepat memisahkan diri dari
Gereja Katholik Roma untuk memulai tradisi Protestan.
Lahir pada 10 November 1483 di Eisleben,
Saxony (sekarang Jerman bagian tenggara), bagian dari Kekaisaran Romawi Suci,
anak dari Hans and Margarette Luther dari kalangan buruh tani yang
berhasil dalam pertambangan tembaga. Martin adalah nama baptisan yang
diperolehnya karena hari pembaptisannya bertepatan dengan hari Santo Martin,
pelindung kaum pengemis. Pada tahun 1484, keluarga Luther pindah ke
Mansfeld. Ayahnya bertekad bahwa anaknya harus menjadi pegawai negeri dan
memberikan kehormatan kepada keluarganya. Dengan harapan itulah Hans mengirimkan
Martin yang masih berusia 7 tahun untuk belajar di Mansfeld, lalu melanjutkan
sekolahnya di Magdeburg pada usia 14 tahun. Namun Hans Luther memiliki rencana
lain bagi Martin, ia ingin anaknya agar menjadi pengacara sehingga ia menarik
Martin dari sekolah di Magdeburg dan mengirimnya ke sekolah baru di Eisenach.
Pada tahun 1498, Martin Luther kembali ke Eisleben dan mendaftar ke sekolah,
mempelajari tata bahasa, retorika, dan logika. Ia lalu membandingkan pengalaman
ini terhadap penyucian dosa dan neraka.
Pada usia 17 tahun, di
tahun 1501, Luther masuk ke Universitas Erfurt, dan mendapatkan gelar
sarjananya pada 1502, dan gelar magisternya (tata bahasa, logika, retorika, dan
metafisika) pada 1505. Menuruti keinginan ayahnya, Luther mendaftar di sekolah
hukum pada universitas yang sama tahun itu, tetapi dengan cepat ia keluar,
karena percaya bahwa hukum melambangkan ketidakpastian. Luther mencari
kepastian tentang kehidupan dan tertarik pada teologi dan filosofi, menampilkan
ketertarikan khusus pada Aristotle, Wlliam of Ockham, dan Gabriel Biel.
Lahirnya Reformasi :
Pada tahun 1514, Martin Luther mulai
melayani dengan menjadi pastor di gereja kastil Wittenburg. Ia berkotbah
tentang Firman Tuhan kepada orang-orang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Pada
masa ini, gereja Katholik melakukan kegiatan yang berlawanan dengan Alkitab
dengan menjual Indulgensia.
Sementara itu, Paus Leo X membutuhkan dana
untuk merenovasi Basilika St. Petrus. Kebetulan baginya, gereja memiliki sumber
pemasukan yang besar atas penjualan indulgensia. Pada tahun 1516, Johann
Tetzel, seorang imam Dominika ditugaskan oleh Gereja Katholik Roma untuk
menjual indulgensia guna merenovasi Basilika St. Petrus di Roma. Dengan
berkeliling ke kota-kota di Jerman, Tetzel dengan persuasif berusaha meyakinkan
jemaat untuk membeli surat indulgensia. Kalimatnya yang terkenal dan sering
diucapkannya, "Saat uang logam bergemerincing masuk kotak uang, maka jiwa
dari api penyucian akan terbebaskan."
Mereka yang membeli surat
indulgensia dijanjikan akan mendapatkan pengurangan hukuman atas dosa mereka,
pengampunan dosa bagi sanak saudara yang berada di api penyucian, dan bisa juga
untuk pengampunan penuh dari segala dosa. Luther menganggap penjualan
indulgensia ini sebagai penyelewengan yang dapat menyesatkan umat sehingga
mereka hanya mengandalkan indulgensia itu saja dan mengabaikan pengakuan dosa
dan pertobatan sejati.
Pada 31 Oktober 1517, Luther memaku 95
dalil Luther dipakukan pada pintu Gereja Kastil sebagai undangan terbuka bagi
pemuka-pemuka gereja untuk memperdebatkan praktik penjualan indulgensia dan
menggarisbesarkan doktrin Alkitab pembenaran oleh iman saja. Tindakan memaku 95
dalil ini menjadi saat yang menentukan dalam sejarah Kekristenan, yaitu simbol
lahirnya Reformasi Protestan. Pada masa itu, adalah suatu kebiasaan bila
ada topik yang hendak didiskusikan atau diperdebatkan maka seseorang bisa
memakukan undangannya di pintu gereja Wittenberg. 95 dalil ini mengkritik
keras indulgensia karena menyesatkan iman orang-orang. Luther juga mengirimkan
salinan 95 dalil ini kepada Uskup Agung Albrecht dari Mainz, menghubunginya
untuk mengakhiri penjualan indulgensia. Namun Uskup Agung Albrecht dari Mainz
tidak membalas surat Luther yang berisi 95 dalil ini. Ia telah memeriksa
dalil-dalil tersebut dan menyampaikannya ke Roma. Ia memerlukan pendapatan dari
penjualan indulgensia untuk membayar dispensasi kepausan untuk masa jabatan
lebih dari satu keuskupan. Dibantu dengan mesin cetak, salinan 95 dalil
tersebar ke seluruh Jerman dalam dua waktu minggu dan ke seluruh Eropa dalam
waktu dua bulan, serta mencapai Prancis, Inggris, dan Italia pada awal tahun
1519.
3. Dr. John Sung (China)
John Song Shang Jie atau Sung Siong Geh atau lebih dikenal sebagai John Sung (29 September 1901 – 18 Agustus 1944) adalah seorang penginjil yang terkenal dari RRC pada abad ke-20. Ia
menjadi terkenal setelah mengadakan serangkaian perjalanan ke beberapa daerah
di RRC, Taiwan, dan Asia Tenggara dan melakukan pekabaran Injil dan kebaktian-kebaktian
kebangunan rohani kepada orang-orang Tionghoa perantauan yang membawa
ribuan orang kepada iman Kristen. Sung mendapat gelar "Obor Allah di Asia".
John Sung dilahirkan di desa Hong Chek, wilayah kota Putian (Hing-hwa), provinsi Fukien (Fujian), RRC, pada tanggal 27 September 1901. Ia mulai berkhotbah sejak usia remaja. Kemudian ia mendapat beasiswa
dari Gereja Metodis untuk belajar di Amerika Serikat. Ia berangkat pada tahun 1920 untuk kuliah di Ohio Wesleyan University dan Ohio State University. Berkat kecerdasannya, ia meraih gelar doktor dalam bidang kimia dalam waktu lima tahun.
Tulisan dan hasil riset kimianya dapat dilihat pada perpustakaan universitas
sampai sekarang.
Tahun 1926 John Sung memutuskan untuk
menjadi seorang pekabar Injil. Upayanya dimulai
dengan berkeliling RRC dari tahun 1927 hingga 1934. Mulai
tahun 1935, Sung memulai perjalanan penginjilan di Asia. Perjalanan meliputi Filipina, Singapura, Thailand, dan juga Indonesia. Sung berkhotbah dalam
pertemuan-pertemuan kebangunan rohani di Thailand selama tahun 1938 dan 1939.
Ia berbicara di gereja-gereja berbahasa Tionghoa (terutama di Bangkok), dan
gereja-gereja berbahasa Thai di seluruh negeri, dari provinsi Trang di selatan
sampai provinsi Prae di utara. Para pemimpin gereja Thai, Suk Phongnoi dan Boon Mark Gittisarn menjadi penerjemah bagi Sung pada berbagai kesempatan dalam kunjungannya
ke Thailand. Berkat khotbah Sung di Thailand banyak orang Kristen kembali
percaya dan orang-orang bukan Kristen menjadi percaya. Di Indonesia, Sung
berkeliling ke beberapa kota, seperti Madiun, Solo, Jakarta, Bogor, Cirebon, Semarang, Magelang, dan Yogyakarta. Pengaruh kedatangan Sung amat besar terhadap berdirinya gereja-gereja Tionghoa di Jawa.
Menjelang akhir
hayatnya, Sung menderita penyakit tuberkulosis usus yang bertahun-tahun ditanggungnya dan sangat mempengaruhi pekerjaannya.
Tak jarang ia pingsan di tengah-tengah khotbahnya, dan harus dirawat beberapa
saat. Namun, segera setelah ia siuman, ia meneruskan khotbahnya sampai selesai,
dan selama itupun jemaat dengan setia menunggu sambil berdoa untuknya.
Seringkali ia harus berbicara sambil bersandar untuk mengurangi rasa sakitnya.
Sung meninggal karena penyakitnya ini pada tanggal 18 Agustus 1944 dalam usia 42 tahun.
4. Saulus (Orang Yahudi dari
Tarsus)
Nama aslinya adalah Saulus, tetapi setelah
bertobat mengambil nama yaitu Paulus. Saulus adalah seorang Yahudi dan ia
sangat bangga dengan keyahudiannya itu. Ia berasal dari suku Benyamin dan ia
juga memiliki kewarganegaraan Roma.
Waktu kelahiran Paulus kurang lebih sama
dengan kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Ia dilahirkan di Tarsus, sebuah kota yang
terkemuka zaman itu di wilayah Kilikia. Tarsus terletak hanya 1,2 km dari Laut
Tengah.
Walaupun Paulus pertama-tama dan terutama
adalah seorang Yahudi, ia juga bangga terhadap Tarsus, yang merupakan kota
pendidikan tinggi serta juga pusat pemerintahan dan perdagangan. Tetapi ia
tidak merasa senang dengan kebudayaan di kota itu yang bersifat Yunani dan
kafir. Orangtua Paulus merupakan orang-orang Yahudi dan sekaligus menjadi warga
negara Roma. Walaupun mereka berusaha melindungi Paulus dari pengaruh kafir
sewaktu remaja, tetapi keadaan kota Tarsus membuat setiap anak yang cerdas
terpengaruh oleh bahasa dan ide-ide kebudayaan Yunani yang kafir.
Sewaktu masih sangat muda, orangtua Paulus
memutuskan ia harus menjadi seorang rabi (guru hukum Taurat). Sebagai seorang
anak kecil di Tarsus, ia belajar tentang tradisi-tradisi umat Yahudi melalui
pendidikan yang teratur di sinagoge setempat. Alkitabnya yang pertama
kemungkinan besar adalah Septuaginta, terjemahan Perjanjian Lama ke dalam
bahasa Yunani.
Sewaktu tinggal di Tarsus, Paulus juga
belajar membuat tenda, sebab setiap murid hukum Taurat dianjurkan mempelajari
suatu ketrampilan di samping menuntut ilmu. Hal ini sangat bermanfaat bagi
Paulus pada kemudian hari, sebab dengan demikian dia sanggup memperoleh nafkah
sendiri sewaktu melakukan pekerjaan misionernya.
Paulus menjadi pemimpin di antara orang
Yahudi. Para pemimpin yang lebih tua mundur dan membiarkan kesempatan kepada
Paulus menjadi pimpinan pasukan untuk menghancurkan Kekristenan. Paulus sendiri
menggambarkan tindakannya yang melawan Kekristenan ini dengan berkata: “Hal itu
kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus
ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi
aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering
menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang
meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota- kota asing.”
BAB 2
PERTOBATAN
1. Master Feng Shui :
Vachiravan Vanlaeiad (Tionghoa)
Di usia 20 tahun saya sudah menjadi
seorang konsultan Feng Shui dan peramal yang cukup terkenal. Upah saya lumayan
mahal dari beberapa ratus Baht sampai beberapa ribu Baht, tergantung tingkat
kesulitannya. Saya terlibat dalam desain dan pembangunan beberapa pemakaman di
Thailand.
Di tahun 1996, saya diperkerjakan oleh
Gereja Sapan Luang untuk membangun dan merawat tempat pemakaman milik gereja.
Saya dipekerjakan sebagai kepala teknisi tempat pemakaman dan di samping itu
saya tetap meneruskan bisnis konsultan Feng Shui saya.
Namun, setiap kali saya bekerja di tempat
pemakaman Kristen, saya tidak bisa menahan diri bertanya-tanya, mengapa
orang-orang Kristen yang tidak pernah memakai ilmu Feng Shui untuk menguburkan
orang mati tapi keluarga mereka sepertinya menjalani hidup yang bahagia dan
baik-baik. Sebaliknya, tempat pemakaman yang dibangun berdasarkan ilmu Feng
Shui tidak dapat memberikan kebahagiaan kepada keturunan mereka. Akibatnya,
banyak makam leluhur yang dibongkar dan dipindahkan ke tempat lain untuk
memperbaiki keberuntungan keturunan mereka yang ternyata gagal dalam kehidupan
pribadi maupun bisnis mereka.
Serangkaian pertanyaan muncul di benak
saya. Mengapa keluarga orang-orang Kristen yang mati dan dikuburkan di
pemakaman non-Feng Shui itu bahagia dan makmur? Dan juga upacara pemakaman
mereka juga menarik: menyanyi lagu-lagu pujian dan khotbah, tidak begitu serius
dan formal seperti non-Kristen. Mereka juga tidak kelihatan terlalu
sedih.
Pertanyaan-pertanyaan ini menghantui saya.
Suatu hari saat saya melakukan survei ke pemakaman dan membaca tulisan-tulisan
di batu nisan. Saya melihat bahwa kebanyakan tertulis, “Yesus berkata, “Akulah
kebangkitan dan hidup. Barangsiapa yang percaya pada aku akan hidup, sekalipun
dia mati; dan barangsiapa yang hidup dan percaya padaku tidak akan pernah
mati”; “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”; dan “Tuhan
adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Saat membaca kalimat-kalimat itu saya
tidak memahami arti dari kata-kata itu dan saya juga tidak tahu bahwa ayat-ayat
itu dari Alkitab.
Lambat laun pemikiran saya berubah dan
saya tidak lagi begitu yakin akan kebenaran prinsip-prinsip Feng Shui. Tapi
banyak orang yang masih datang ke saya dan saya hanya membantu mereka untuk
menyenangkan mereka. Tidak lama setelah itu saya diminta untuk membantu di
proyek pemakaman milik Gereja Saphan Luang di daerah Nakhoin Pathom. Saya kaget
melihat lokasi pemakaman itu yang terletak di antara rel kereta api (di
belakang) dan persimpangan T (di depan) yang menurut Feng Shui sangat tidak
baik. Menurut ilmu Feng Shui, lokasi itu akan membawa sial dan kemiskinan pada
keturunan orang yang dimakamkan di situ. Namun, setelah satu minggu bekerja di
sana, saya melihat dari batu-batu nisan di situ bahwa keturunan mereka yang
dimakamkan di sana merupakan orang-orang terkenal dan kaya di dalam masyarakat
Thailand pada waktu itu.
Fakta ini membuat saya untuk bertanya
kepada beberapa ahli Feng Shui yang terkenal mengapa ilmu Feng Shui tidak
berpengaruh ke atas orang Kristen? Kebanyakan dari mereka memberitahu saya,
“Karena mereka punya Tuhan!” Saya juga punya kesempatan untuk menanyakan pada
salah satu guru yang paling ternama di Thailand mengapa orang-orang Kristen
tetap baik-baik dan bahagia sekalipun mereka tidak memperlakukan
prinsip-prinsip Feng Shui. Guru ini dengan enggan memberitahu saya, “Memiliki
Tuhan mereka sudah cukup bagi orang-orang Kristen!”
Jawabannya membuat saya bingung dan saya
berpiir, “Wah! Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan semua yang telah kita pelajari
dan terapkan. Bagaimana dengan begitu banyak waktu yang kita pakai untuk
menimba pengetahuan tentang Feng Shui? Apa yang benar dan sejati – Feng Shui
atau Kekristenan?”
Semakin saya memikirkan tentang hal ini,
semakin saya ingin mengenal Allah orang-orang Kristen; namun saya masih belum
mempunyai kesempatan untuk mengenalNya karena saya tidak tahu harus bermula
dari mana! Saya tidak tahu bagaimana untuk mengenalNya!
Di pertengahan tahun 2005, saya menghadapi
banyak sekali tantangan dalam pekerjaan saya, sampai-sampai ada yang menyewa
pembunuh bayaran untuk menghabisi saya. Saat saya tertekan karena tidak dapat
menuntaskan permasalahan saya, saya akan bermeditasi untuk mencari ketenangan
agar dapat menemukan solusi, namun sia-sia. Di waktu itu saya diberi sebuah
buku berjudul, “Kuasa kehidupan” yang berisi kesaksian orang-orang Kristen di
Thailand dari setiap lapisan masyarakat. Saya membacanya dan tiba pada kalimat
yang berkata, “…jika kita tidak mengakui dosa-dosa kita pada Allah, apa yang
akan terjadi dengan hidup kita?” Entah mengapa, tiba-tiba saya menyadari bahwa
saya adalah orang yang sangat berdosa karena telah melakukan banyak hal yang
menjijikkan.
Di waktu itu juga saya mengakui semua
dosa-dosa yang telah saya lakukan dan berkata pada Tuhan, “Saya orang berdosa.
Saya meminta kesempatan dari Engkau untuk menjadi orang baik dan menerima hidup
yang baru.” Setelah doa itu, saya merasa dihibur secara spiritual dan mental.
Pada hari Minggu, ditemani oleh anak saya
pergi ke gereja yang berlokasi di Bangkok. Di hari itulah saya buat pertama
kalinya mengalami dan melihat orang-orang Kristen menyembah Allah mereka. Saya
memberitahu anak saya bahwa kita harus dengan kuat berpegang pada
prinsip-prinsip Kristiani dan mengabdi pada Allah orang Kristen. Dan kita harus
berani untuk memberitahu orang lain bahwa kita adalah Kristen dan harus membaca
Alkitab dengan teratur. Setahun kemudian, di tahun 2006 saya membuka hati dan
jiwa untuk mempercayai dan juga menyerahkan seluruh kehidupan saya kepada Allah
dan dibaptis. Istri dan anak perempuan saya juga mengikuti langkah saya tidak
lama setelah itu. Suatu mukjizat terjadi di dalam keluarga kami, ayah saya yang
selama 20 tahun tidak pernah tinggal serumah dengan kami kembali dan buat
pertama kali keluarga kami menjadi utuh. Setelah itu saya mengikuti pelatihan
di gereja tentang “Mengikuti Kristus”, dan saya mulai memahami lebih tentang
Kekristenan. Di sisi lain, saya juga sangat khawatir jika saya berhenti dari
menjadi seorang konsultan Feng Shui, bagaimana saya akan menghidupi keluarga
saya. Pada suatu malam saya membalik Alkitab dan ayat yang saya baca berkata, “Tuhan adalah gembalaku, aku tidak akan
kekurangan (Mzm 23.1).” Ayat itu menguatkan hati saya dan tidak lama
setelah itu saya mendapat proyek membangun tempat pemakaman untuk Gereja
Piamrak and Gereja Maitreechit.
Sejak itu, hidup saya berubah. Saya
mempunyai kesempatan bukan saja untuk mengabarkan Firman Tuhan pada orang yang
tidak percaya (yang mendatangi saya untuk konsultasi Feng Shui) tapi juga
mendorong orang-orang Kristen yang lemah yang masih mempercayai Feng Shui. Saya
menyakinkan mereka bahwa Allah kita besar karena sekalipun saya seorang ahli
Feng Shui, saya telah 180-derajat bertobat dan menyembah Dia. Saya selalu
menghimbau mereka, “Jangan menyerah, berimanlah pada Allah!”
Jika Anda adalah
anak-anak Allah, janganlah khawatir tentang kehidupan atau masa depan Anda.
Feng Shui maupun bintang-bintang di langit tidak ada pengaruh atas Anda karena
Allah maha Kuasa memimpin dan mengarahkan hidup Anda. Dia adalah Tuan atas
kehidupan Anda. Karena, “Sesungguhnya aku tahu, bahwa TUHAN itu maha besar, dan
Tuhan kia melebihi segala allah.” (Mzm 135.5)
2. Tokoh Reformasi : Martin
Luther (Jerman)
Saat sedang dalam perjalanan dari Mansfeld
ke Erfurt, Martin Luther terjebak serangan badai. Di suatu hutan dekat desa
Stotternheim, petir menyambar di dekatnya, sehingga ia terlempar jauh akibat
tekanan udara. Dalam ketakutan, ia berseru, "Tolonglah, Santa Anna! Saya
akan menjadi biarawan!". Badai
mereda dan karena nyawanya selamat, Luther meninggalkan sekolah hukumnya dan
masuk ke biara Augustinian di Erfurt pada 17 Juli 1505 (Banyak sejarahwan
percaya bahwa tindakan Martin Luther bukanlah tindakan yang spontan, tetapi
sudah terformula di benak pikirannya). Bisa dibayangkan betapa marah ayahnya
kepada Martin, karena ayahnya menginginkan ia menyelesaikan studi hukumnya.
Luther juga didorong oleh rasa takut akan neraka dan murka Tuhan, dan merasa
bahwa hidup di biara akan menolong dia menemukan keselamatan.
Martin Luther sepenuhnya mengabdikan
dirinya pada hidup membiara, dengan melakukan segala perbuatan untuk
menyenangkan Tuhan dengan berpuasa, berdoa selama berjam-jam, berziarah, dan
sering melakukan pengakuan dosa. Awal kehidupan membiara begitu sulit bagi
Martin Luther, karena ia tidak menemukan pencerahan religius yang ia cari.
Johann von Staupitz, atasan Luther, menyuruhnya untuk memfokuskan hidupnya
secara khusus pada Kristus dan kemudian hal ini akan menjadi petunjuk yang ia
cari. Dia mengajarkan bahwa pertobatan tidak meliputi penebusan dosa atas usaha
sendiri dan penghukuman tetapi lebih dari perubahan hati.
Pada 1507 Luther ditahbiskan menjadi imam.
Pada 1508 ia mulai mengajar teologi di Universitas Wittenberg. Pada 9 Maret
1508 ia mendapatkan gelar sarjananya dalam Studi Alkitab, dan gelar sarjananya
dalam "Sentences" karya Petrus Lombardus (buku ajar teologi
yang terutama pada Zaman Pertengahan) pada 1509. Pada umur 27, Luther berkesempatan
untuk menjadi utusan ke sebuah konferensi gereja di Roma. Ia menjadi lebih
kecewa, dan sangat putus asa oleh kekekalan dan korupsi yang ia saksikan di
sana di antara imam-imam Katholik. Sekembalinya ke Jerman, ia masuk ke
Universitas Wittenberg dalam upaya untuk menekan kekacauan rohaninya. Pada 9
Oktober 1512 ia menerima gelar Doktor Teologi, dan pada 21 Oktober 1521 ia
diterima menjadi anggota senat dosen teologi" dan diangkat menjadi Doktor
dalam Kitab Suci. Luther menghabiskan karirnya di jabatan ini di Universitas
Wittenberg.
Melalui studi kitab suci, Martin Luther
akhirnya mendapatkan pencerahan rohani. Awal 1513, saat mempersiapkan bahan
kuliah, ia membaca Mazmur 22, yang menceritakan tangisan Kristus memohon
pengampunan di kayu salib, tangisan yang sama dengan kekecewaan Luther terhadap
Tuhan dan agama. Luther mulai memahami inti teologi salib. Dua tahun
kemudian, saat mempersiapkan bahan kuliah Surat Paulus kepada Jemaat di Roma.
Konsep Kebenaran Allah sangat dominan dalam kitab Roma. Pertanyaan Luther dalam
hati sanubarinya "Allah dengan kebenaran-Nya yang sempurna akan mengadili
setiap orang. Bagaimana jika orang berdosa sesungguhnya tidak akan pernah
memenuhi standard keadilan Allah supaya dibenarkan, meskipun orang berdosa tulus
mencari-Nya?". Pertanyaan ini memberikan dilema yang luar biasa. Kebenaran
Allah hanya akan mendatangkan kutukan dan hukuman bagi orang berdosa, tanpa
terkecuali dirinya sendiri. Bahkan Luther menuliskan, "Meskipun aku
hidup tidak bercela sebagai seorang imam, namun aku yakin bahwa aku tetap orang
yang berdosa dan hati nuraniku sangat gelisah di hadapan Allah. Aku tidak
percaya segala perbuatanku dapat menyenangkan Allah".
Pada suatu malam sekitar akhir tahun 1514,
Luther terpaku membaca "... orang benar akan hidup oleh iman"
(Roma1:17). Tulisan Paulus ini menggetarkan hatinya dan Ia mendalami kalimat
ini untuk beberapa waktu. Akhirnya ia menyadari bahwa kunci keselamatan rohani
bukanlah takut akan Tuhan atau diperbudak oleh dogma religius tetapi adalah percaya bahwa oleh iman itu sendiri akan
membawa keselamatan. Luther mengingat ajaran Agustinus tentang
"Anugerah" yang pernah dibacanya. Doktrin "Anugerah" yang
pernah dituliskan Agustinus dalam buku Confessions adalah salah satu
ajaran penting yang telah begitu lama dilupakan gereja. Doktrin ini meyakini
bahwa tidak ada satupun manusia berdosa mampu menyelamatkan dirinya. Hanya
Allah yang dapat mengampuni manusia dalam kedaulatan-Nya. Pengampunan inilah
yang disebut anugerah, suatu anugerah yang sebenarnya tidak layak diberikan
kepada kita. Bahkan iman pun adalah pemberian Allah, bukan usaha dan keputusan
manusia. Alkitab dan Agustinus telah "melahirkan" Luther
kembali. Luther menyaksikan seluruh kegelisahan hatinya lenyap,
"Seperti ada tertulis bahwa orang benar hidup oleh imannya. Ini membuat
aku seperti dilahirkan kembali. Kini aku seakan berdiri di depan pintu gerbang
surga dalam suatu terang yang baru. Kalau dulu aku membenci ungkapan 'Kebenaran
Allah', maka sekarang aku mulai mencintai dan memujinya sebagai ungkapan yang
paling manis..." Luther pun mulai melihat seluruh isi kitab suci dengan
sudut pandang yang baru.
3. Dr. John Sung (China)
Gelar PhD di
perolehnya dalam 1 tahun dan hanya 9 bulan sesudah mencapai ijasah sarjananya.
Tapi pada waktu ia sedang mengenang kampung halamannya seolah-olah Allah
berkata kepadanya "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi
kehilangan nyawa?" dan esoknya seorang Pendeta berkata kepadanya
"Anda tahu, anda tidak punya tampang ahli Fisika, anda lebih mirip
pengkhotbah".
1926 dari Sung Msc, PhD didaftarkan
sebagai mahasiswa di Union Theological Seminary. Akhir triwulan nilainya sangat
tinggi, tetapi dia kehilangan kepercayaannya dan mulai menghina
pendeta-pendeta. Kepercayaan pada Firman Allah goncang sampai ke
dasar-dasarnya. Doa tidak berkuasa lagi dalam hidupnya, meskipun dia setia
berdoa namun doanya hanya lahiriah. Dia berbalik ke agama-agama kuno di Timur,
dalam perpustakaan STT dia membaca buku-buku tentang agama Budha dan Tao dan
mengharap mendapat keselamatan dengan jalan penyangkalan diri, tetapi hatinya
tetap gelap.
Khotbah seorang gadis 15 th menyadarkan
dia dan dia mencari Alkitab yang telah disia-siakan dan mulai membacanya
setelah ber bulan-bulan lamanya. Bacaan Lukas 23 telah membuat dia menangis dan
berdoa minta pengampunan, kemudian dia mendengar suara "AnakKu dosamu
sudah diampuni lalu dia langsung melompat dan berteriak Haleluya sambil berseru
memuji Allah, mulai saat itu namanya diganti John menurut John The Baptist. Ia
mengesampingkan semua buku teologinya dan mulai menyelidiki Alkitab dan
menghafal sejumlah ayat.
1927 Ketegangan jiwa yang hebat, belajar
sungguh-sungguh melampaui batas kewajaran dan konflik rohani yang
bertahun-tahun mengakibatkan pikiran John Sung terganggu sehingga dia harus
dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa. Dia berhasil melarikan diri tetapi tertangkap
lagi. Tetapi di dalam RSJ dia membaca Alkitabnya 40 kali dari awal sampai akhir
dengan metode telaah yang berbeda dan mencatat apa yang ia temukan, Jadi RSJ
menjadi Sekolah Teologi baginya. Tepat 193 hari sejak ia masuk RSJ, bulan
Februari dia dilepaskan dan ia merasa itulah penerimaan ijasah yang paling
tinggi baginya.
4 Oktober ia berlayar pulang ke Hinghwa
dan di tengah perjalanan di atas kapal dia membuang semua ijasah dan
medali-medalinya kecuali ijasah doktornya untuk menyenangkan ayahnya. Ia
serahkan dan tinggalkan demi kemuliaan Allah. Dia tiba di Hinghwa dan disambut
oleh keluarganya setelah 7 tahun tidak pulang, dan mereka semua sudah mendengar
tentang kehebatan dia di luar jadi ayahnya meminta dia untuk bekerja di suatu
universitas pemerintah untuk membantu biaya adik-adiknya tetapi John berkata
kepada ayahnya "Ayah aku telah mengabdikan hidupku untuk mengabarkan
Injil", semua terkejut, menangis dan kecewa dan mereka mengira John belum
sembuh sakit jiwanya. tetapi setelah mereka mengamati perilakunya yang
kebanyakan berdoa dan menelaah Alkitab, dengan segan mereka menerima keputusan
itu dan mengucapkan selamat kepada dia saat ia mulai hidupnya untuk Tuhan Yesus
Kristus.
John Sung bekerja sebagai sukarelawan ia
tidak menerima gaji dan persediaan makan keluarganya sering sangat
memprihatinkan dan dalam ketidaksabarannya ia hampir saja menerima satu dari
sekian jabatan empuk yang disodorkan kepadanya. Tapi pada saat itu ia diserang
bisul-bisul di seluruh badan karena ia masih tergoda dan Tuhan menahan dia
dengan penyakit kolera. Dengan malu dan takluk John Sung menyerahkan hidupnya
tanpa syarat dan Allah menerima penyerahan itu.
Setelah John Sung sembuh Ny Sung (istri yang
dijodohkan oleh orangtuanya dari kecil) dan bayinya 3 bulan sakit dan yang
mengakibatkan bayi itu mati. 3 Hari setelah dikuburnya bayi itu John Sung pergi
ke Shanghai karena Tuhan memberi perintah untuk pergi ke suatu tempat yang
sudah ditunjukkan. Ia meninggalkan istrinya yang masih tergeletak di ranjang
karena sakit dan berduka cita.
Setelah melalui kehidupan yang cukup
sulit beberapa tahun lamanya, John Sung berangkat ke Shanghai, sebuah kota yang
besar di Cina. Di sana ia mengadakan kebaktian-kebaktian yang penting dan
ribuan orang maju ke depan dengan penyesalan yang mendalam akan dosa-dosa
mereka. Dari Shanghai ia ke Nanking. Ia sangat lelah dan mendapat sakit jantung
sehingga hanya sanggup berkhotbah 1 kali sehari. Tapi 200 juru rawat bolos hanya
untuk mendengarkan khotbahnya, 110 jururawat bertobat dan membentuk persekutuan
doa mohon pertobatan.
John ikut regu Betel ke Tiongkok Utara,
tapi ketika di Tahsingting pikirannya kacau sehingga ia tidak ingin berkhotbah
dan ia hanya mendengarkan Adariew Gih. Regu Betel bergerak ke Tsinan di sana
John berkhotbah lalu dilanjutkan ke Taian dimana di sana Iblis telah
membinasakan Gereja. Gedung gereja dihancurkan sekolah kristen dipaksa tutup,
beberapa Pendeta lari dengan keluarganya dan orang-orang kristen sangat putus
asa. Tapi di tempat itu John Sung digunakan Allah dengan baik 103 orang
bertobat, lalu mereka bergerak ke Tenghsian yang merupakan pusat pendidikan
yang terkenal. Situasi sekolah pemerintahan yang anti Kristen datang mengacau
tetapi mereka berbalik, insaf dan bertobat sungguh-sungguh. 300 orang berusaha
untuk beroleh kedamaian dengan Allah.
Dari Tenghsien dia kembali ke Shanghai
lalu pergi ke Mancuria untuk bekerja bersama Andariew Gih dan rombongannya.
Mereka meneruskan perjalanan ke Mukden ketika tentara Jepang merebut kota itu
dan pecah perang dengan Jepang. Dalam perang tersebut regu penginjil itu
didesak supaya pulang tetapi mereka menjawab TIDAK. Mancuria kemudian direbut
dan diduduki Jepang.
Tahun 1939 John Sung datang ke
Indonesia. Di Surabaya ia melayani selama 7 hari. Pada malam hari orang yang
datang penuh sesak dan mereka menangis dan bertobat kembali kepada Tuhan. Yang
menakjubkan orang-orang inipun rela menutup toko dan datang ke gereja setiap
hari! Nyata sekali kuasa Allah sedang bekerja. Setelah itu ia melanjutkan
pelayanan ke kota Madiun, Solo, Bandung dan Jakarta. Sebanyak 1000 orang hadir
dalam kebaktian itu, bahkan di Jakarta orang yang hadir sejumlah 2000 orang.
Di Bogor, karena tidak ada gedung gereja
yang cukup besar, orang sampai mendirikan tenda di lapangan tenis untuk memberi
duduk 2000 orang. Lalu disambung ke Cirebon, Semarang, Magelang dan Purworejo.
Kebaktian selanjutnya di Solo dan Jogja lalu kembali ke Surabaya. Beberapa
waktu kemudian dia diundang ke Ujung Pandang dan Ambon dan membawa berkat
melimpah untuk gereja di sana.
Kesehatan hamba Tuhan yang setia ini
makin lama makin buruk. Waktu di Surabaya ia berkhotbah sambil berlutut untuk
meringankan sakitnya. Dengan segera ia kembali ke negerinya dan dibedah serta
diobati. Selanjutnya ia tidak dapat memimpin kebaktian, tetapi dalam
kelemahannya ia tetap menerima orang-orang yang datang berkunjung. Awal tahun
1944, sakitnya makin bertambah sehingga ia diangkut ke rumah sakit di Peking.
Selama 1/2 tahun dirawat, akhirnya ia pulang untuk berkumpul dengan keluarganya
pada hari-hari terakhir. Meskipun sakit yang ditanggung makin berat, John Sung
tetap setia membaca Alkitab dan berdoa.
Pada tanggal 16 Agustus 1944, tubuhnya
tambah lemah. Ia merasa sudah hampir meninggal. Malam itu John Sung tidak
sadarkan diri. Tapi esoknya ia masih bangun dan menyanyikan 3 lagu pujian bagi
Tuhan. Hari itu dilaluinya dengan sukacita dan damai. Pada pukul 7.07 pada
tanggal 18 Agustus, John Sung menghembuskan nafas terakhirnya. Ia dipanggil
Tuhan pada usia 42 tahun. Itulah saat yang paling bahagia untuknya, bertemu
dengan Juruselamat dan bersama Kristus untuk selamanya.
4.
Saulus (Orang Yahudi dari Tarsus)
Menurut Kisah Para Rasul, Pertobatannya
terjadi di jalan menuju Damaskus di mana ia mengalami
"pertemuan" dengan Yesus, yang kemudian
menyebabkan ia menjadi buta untuk sementara (Kisah Para Rasul 9:1-31, 22:1-22, 26:9-24). Pertobatan ini sangat istimewa di mana kemauan untuk Paulus bertobat
awalnya datang dari Tuhan Yesus sendiri setelah itu barulah muncul niatan
bertobat dari Paulus sendiri. Dicatat bahwa "berkobar-kobar hati Saulus (nama Paulus sebelum menjadi murid Yesus)
untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan
meminta surat kuasa daripadanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia
menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap
mereka dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum.”
Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika Saulus sudah dekat kota
itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Waktu itu adalah tengah hari, dan cahaya dari
langit itu menyilaukan. Saulus dan teman-temannya semua rebah ke tanah dan
kedengaranlah oleh Saulus suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus,
Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" Suara itu berbicara dalam
bahasa Ibrani, dan berkata lagi: "Sukar bagimu menendang ke galah
rangsang. Setelah tahu siapa yang
berbicara, Saulus bertanya apakah yang harus ia perbuat. Tuhan menyuruhnya
pergi ke kota Damsyik.
Dalam penuturannya di hadapan Agripa, Saulus memberitahukan
kata-kata selanjutnya dari Tuhan: "Aku menampakkan diri kepadamu untuk
menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah
kaulihat daripada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti.
Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan
Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya
mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah,
supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan
mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.”
Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka
memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun. Saulus bangun
dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa oleh
karena cahaya yang menyilaukan mata itu. Tiga hari lamanya Saulus tidak dapat
melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum, dan terus berdoa. Selama
itu ia tinggal di rumah Yudas yang berada di jalan yang bernama Jalan Lurus.
Setelah tiga hari itu, Saulus mendapat suatu penglihatan di mana
ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan
tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi. "Saulus, saudaraku,
Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui,
telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan
Roh Kudus. Bukalah matamu dan melihatlah!"
Ananias adalah seorang murid Tuhan Yesus yang tinggal di Damsyik.
Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya:
"Ini aku, Tuhan!" Firman Tuhan: "Mari, pergilah ke jalan yang
bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang
bernama Saulus. Ia sekarang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat,
bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke
atasnya, supaya ia dapat melihat lagi."
"Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk
memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang
Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang
harus ia tanggung oleh karena nama-Ku."[31]
Saulus bangun lalu dibaptis setelah disembuhkan oleh Ananias. Dan
setelah ia makan, pulihlah kekuatannya.
Sejak dibaptis kehidupan
Saulus berubah drastis dan menjadi pelayan Tuhan yang setia hingga akhir
hayatnya
BAB 3
KETELADANAN BAGI ORANG PERCAYA
Dari kisah si Master Feng Shui : Garam dan Terang
Dunia
a.
Garam dan Terang sifatnya berkorban
Garam dan terang tidak ada gunanya jika
ia tidak mau berkorban. Contohnya adalah ketika Vachiravan rela melepaskan
pekerjaannya sebagai master feng shui. Puncak perhatian orang-orang adalah
tingkah lakunya yang berubah ketika ia menjadikan dirinya seorang Kristen.
Saat
ia mengorbankan pekerjaannya pun, Tuhan tidak meninggalkannya. VV menyerahkan
dirinya sepenuhnya hanya untuk Tuhan. Ia terus berdoa, mengorbankan waktunya.
Ia pun diberikan Tuhan pekerjaan di gereja.
b. Garam dan Terang sifatnya mempengaruhi
Lewat
pekerjaan nya sebagai Feng Shui, Tuhan menginginkan bertambahnya orang-orang
yang percaya kepadaNya. Banyak yang masih datang kepada Vachiravan untuk
konsultasi. Ia memanfaatkannya dengan mengabarkan kabar / berita tentang Tuhan
Yesus Kristus.
Roh Kudus mempunyai peran yang sangat penting
disini. Roh Kudus memberikan pengertian akan firman Allah, yaitu kemampuan
melihat hal-hal dari sudut pandang Allah dan percaya kepadaNya.
c. Garam dan Terang sifatnya menjadi Berkat
Dengan
mengabarkan tentang Tuhan Yesus Kristus, orang percaya semakin banyak dan
berkembang hingga menjadi berkat yang terus menerus bertumbuh. Roh Kudus
memberikan pertumbuhan. Roh Kudus memberikan kekuatan yang mengubahkan mental,
karakter, dan kepribadian manusia menjadi sesuai dengan pertumbuhan yang
mengarah kepada Kristus.
Dari Kisah Paulus :
a. Paulus Belajar
secara Rutin
Sebagai orang Farisi yang pernah dididik
”di kaki Gamaliel, diajar sesuai dengan kerasnya Hukum nenek moyang”, Paulus
sudah memiliki pengetahuan tentang Alkitab sampai taraf tertentu. Berkat
pengetahuan dan pemahaman tentang Alkitab yang ia peroleh melalui pelajaran
pribadi, Paulus bisa mengajarkan kebenaran dengan efektif. Misalnya, di
sinagoga di Antiokhia, Pisidia, sedikitnya lima kali Paulus mengutip langsung
dari Kitab-Kitab Ibrani untuk membuktikan bahwa Yesus adalah sang Mesias.
b. Paulus Belajar Mengasihi
Sewaktu Tuhan Yesus menampakkan diri
kepadanya, Saulus sedang dalam perjalanan menuju Damaskus untuk menganiaya
murid-murid Kristus di sana. Saulus buta dan harus bergantung pada orang lain.
Sewaktu Tuhan menggunakan Ananias untuk memulihkan penglihatan Saulus, sikapnya
terhadap orang-orang sudah berubah untuk selamanya. (Kis. 9:1-30) Setelah menjadi pengikut Kristus, ia berupaya keras untuk memperlakukan
semua orang seperti cara Yesus. Itu berarti menyingkirkan kekerasan dan ”suka
damai dengan semua orang”. Paulus tidak puas dengan sekadar hidup damai dengan
orang lain. Ia ingin memperlihatkan kasih yang tulus kepada mereka, dan
pelayanan Kristen memberinya kesempatan itu. Pada perjalanan utusan injilnya
yang pertama, ia memberitakan kabar baik di Asia Kecil. Meskipun mendapat
tentangan sengit, Paulus dan rekan-rekannya berkonsentrasi untuk membantu
orang-orang yang lembut hati menganut Kekristenan.
Dari Kisah Dr. John Sung :
Dengan
pertolongan Roh Kudus, John Sung kembali pada Tuhan. John Sung memberitakan
injil dengan berlandaskan buah roh : kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan
diri. Dalam hidupnya, John Sung mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan
sampai hembusan nafas terakhirnya. Disini terlihat kesetiaan John Sung kepada
Tuhan sampai akhir. Perlu diingat bahwa pertumbuhan rohani adalah proses seumur
hidup yang terjadi melalui mempelajari dan menerapkan firman Tuhan. Dari kisah
ini juga, John Sung juga rela melepaskan semua gelar pendidikan yang sudah
diraihnya selama ini. Karena buat apa semua yang ada di dunia ini jika
kehilangan nyawa.
Dari Kisah Martin Luther :
1. Jadilah diri sendiri
Martin percaya bahwa setiap individu
spesial. Masing-masing berada disini untuk suatu tujuan dan tujuan utama bagi
kita semua adalah untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Tidak
peduli apa warnamu, apa agamamu, seperti apa rupamu, seperti apa suaramu, tidak
peduli darimana asalmu. Kamu ada di sini untuk melakukan perubahan.
2. Percaya
Martin Luther adalah orang yang penuh
iman. Dia dihormati oleh pria dan wanita beriman dari keyakinan yang berbeda
daripadanya. Poin utamanya adalah bahwa ia percaya. Bukan hanya percaya, tapi
ia rela mati untuk apa yang ia yakini. “Keyakinan adalah mengambil langkah
pertama ketika Anda tidak bisa melihat seluruh tangganya.”
3. Perhatikan. Berdiri dan lakukanlah
sesuatu!
Jangan hanya diam melihat apa yang tidak
benar di hadapan Tuhan. Jadilah dirimu sendiri, percaya, dan lakukanlah sesuatu
untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Seperti apa yang dilakukan oleh Martin
Luther.
PENUTUP
Manusia
cenderung hidup dalam dosa karena hidupnya terikat dosa. Oleh karena itu, manusia
membutuhkan keselamatan agar memperoleh kehidupan kekal di surga kelak. Manusia
membutuhkan penolong lain di luar dirinya yang dapat enolongnya mendapatkan
keselamatan.
Iman
adalah jalan pembuka bagi proses pengudusan hidup orang Kristen dan jembatan
yang menghubungkan sehingga ada persekutuan antara orang Kristen dan Allah. Di
sini Roh Kudus berperan untuk menguduskan. Manusia tidak dapat menguduskan
dirinya sendiri. Roh Kuduslah yang menguduskannya.
Bagaimana
cara Tuhan membawa ke-4 tokoh di atas kembali kepada pertobatan?
Tuhan menggunakan Roh Kudus untuk
mengembalikan orang-orang yang sudah berbelok ke arah jalan yang tidak benar.
Hanya oleh Roh Kudus sajalah manusia dapat dipulihkan dan bertumbuh serupa
dengan Kristus. Pertumbuhan rohani orang percaya terjadi karena karya Roh Kudus
yang diam di dalamnya. Pertumbuhan rohani juga terjadi karena Roh Kudus memberi
kekuatan yang mengubahkan mental, karakter, dan kepribadian yang sesuai dengan
pertumbuhan yang mengarah kepada Kristus.
Jadi,
Roh Kudus mempunyai peran yang sangat penting, yaitu memberi pertumbuhan kepada
setiap orang percaya, baik dalam hal iman maupun kapasitas hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA
https://id-id.facebook.com/notes/us-embassy-jakarta-indonesia/10-hal-yang-bisa-kamu-pelajari-dari-martin-luther-king-jr/495203332143/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar